BERITA & CERITA

WC untuk Kesehatan Keluarga

04 Jan 2019

Salah satu kegiatan STBM untuk menjelaskan pola hidup sehat dan penggunaan toilet bagi masyarakat di Asmat

#ProgramAsmatSehat - Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan salah satu upaya untuk pemeliharaan kesehatan individu maupun keluarga, sehingga individu atau keluarga dari sedini mungkin bisa mengupayakan atau meminimalisir penyebaran penyakit yang menular, seperti memasak air sebelum diminum, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum makan dan buang air besar tidak sembarangan. Terkait dengan pola BAB sembarangan tersebut, Wahana Visi Indonesia bekerja sama dengan Keuskupan Agats dan Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat melakukan pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di kampung Damen Distrik Sirets.

Kegiatan ini dilakukan tanggal 4 Desember 2018 di Gereja Katolik Stasi Damen difasilitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat yang melibatkan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan kader kesehatan. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan  yang dimaksud  42  orang terdiri dari laki-laki 11 orang dan perempuan 31 orang.

Masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut sangat antusias dengan kegiatan yang dilakukan dan mereka baru menyadari bahwa selama ini mereka sudah buat salah dan tidak baik.   

“Selama ini kita memakan kotoran sendiri karena ketika saya BAB, lalat yang hinggap di kotoran itu, dia bawa kotoran itu ke sayur dan ke makanan. Lalu makanan itu kita makan lagi. Sama saja kita jadi makan kotoran sendiri,” kata Albertus, salah satu warga ketika menjelaskan simulasi bagaimana lalat menyebarkan kotoran sampai ke makanan.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat ingin berubah dan tidak mau melakukan BAB sembarangan lagi, sehingga, dari 42 peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut 18 orang yang mengajukan diri untuk mau membangun WC. Hingga saat ini 11 kepala keluarga yang sudah dalam proses pembangunan WC dan 5 kepala keluarga telah selesai membangun WC dan sudah menggunakan WC tersebut.

Semua bahan baku dalam pembuatan WC menggunakan bahan lokal. Hal yang menarik dalam proses pembangunan WC tersebut adalah semua keluarga ikut berpartisipasi. Para ayah ditugaskan untuk memotong kayu dan papan, sedangkan anak-anak dan ibu membantu menganyam pelepah dusun (Daun Pohon sagu) untuk dijadikan atap WC.

“Saya melihat bapak Markus sudah mulai mengumpulkan bahan untuk buat WC. Karena (saya melihat) dia sudah mulai kumpul bahan, saya bilang dengan mama (istri saya), ayo kita mulai kumpul bahan juga. Besok pagi saya ke hutan potong kayu untuk buat dia punya panggungnya dan kami kerjasama. Mama anyam atap, saya cari kayu dan potong papan, sehingga cepat selesai,” cerita warga lainnya, Kasmirius. 

Kasmirius juga menambahkan, ia dan keluarganya merasakan kebahagiaan setelah memiliki wc di rumahnya.

“Kami rasa senang buang air di WC itu baik, aman dan tidak bau,” tambahnya.

Ditulis oleh : Solfriamus Dasman (Fasilitator Pengembangan/Health Officer Program Asmat Sehat)

Artikel Terkait

23 May 2019

Ketika Mobil Sahabat Anak Berperan Bagi Sentani

Ketika Mobil Sahabat Anak Berperan Bagi Sentani

Sudah lebih dari tiga minggu, Mobil Sahabat Anak (MSA) menjadi sahabat bagi anak-anak…

06 May 2019

Bencana yang Membawa 'Berkah' Kemitraan

Bencana yang Membawa 'Berkah' Kemitraan

#PeduliSentani - 16 Maret 2019, Kabupaten Jayapura di Provinsi Papua seketika menjadi…

22 Apr 2019

Lebih dari 1.200 Anak di Sentani Telah Mengikuti Aktivitas Ruang Sahabat Anak

Lebih dari 1.200 Anak di Sentani Telah Mengikuti Aktivitas Ruang Sahabat Anak

#PeduliSentani – Meskipun berada di posko-posko evakuasi, anak-anak terdampak banjir Sentani,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube