BERITA & CERITA

Rawat 8.000 Pohon untuk Anak

08 Jan 2019

Hina di tengah-tengah pohon yang ditanamnya. Pohon-pohon ini diharapkan berguna bagi penerus di desanya kelak

Makalamak, sebuah dusun yang terletak di ujung Desa Mbatapuhu, Sumba Timur. Uniknya, dusun ini masih merupakan bagian dari desa lainnya, Desa Rambangaru. Suasana yang hijau dan banyaknya pohon berjajar di pinggir jalan menjadi pemandangan yang berbeda bila dibandingkan dengan kondisi alam Mbatapuhu yang cenderung berupa sabana.

Meski berjarak cukup jauh dari pusat kota, bisa menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke sana, tetapi dusun  ini ternyata menyimpan para pejuang alam yang terus berusaha menjaga keasrian lingkungan mereka. Salah satunya ialah Hina Pirandawa (51). Rumah bapak dari 9 anak ini dikelilingi oleh sebagian besar pohon gamalina yang tinggi menjulang. Jumlahnya cukup fantatis yakni 8.000-an pohon yang sudah ia tanam.

“Awal saya menanam itu pada 2008. Saya tertarik menanam karena diberi motivasi dari salah seorang petugas Wahana Visi Indonesia di proyek IRED. Lalu, saya juga semakin mau menanam karena visinya ialah berfokus pada anak dan melestarikan lingkungan. Semua anakan pohon yang diberikan, waktu itu berjumlah dua belas pohon mahoni, saya tanam,” tuturnya antusias.

Semangat menanamnya yang kuat menjadi dorongan utama baginya untuk terus menanam pohon, ditambah lagi kondisi tanah yang mendukung dan ketersediaan air yang cukup.

“Saya biasa tanam pada April karena kadar airnya sudah kurang jadi tanamanya tidak mati. Kendalanya hanya pada musim kemarau yang retan dengan kebakaran. Puji Tuhan tidak pernah terbakar karena setiap tahun kita selalu buat pembatas api,” ungkapnya.

Soal hewan yang kerap merusak pohon ternyata tidak menjadi permasalahan di wilayahnya. Ia mengaku terbantu karena adanya pagar umum di dusunnya tersebut. Selain itu, adanya peraturan yang melarang hewan masuk ke wilayah pertanian, mampu melindungi pohonnya hingga tumbuh besar menjulang.

“Kalau hewan tetap masuk, sanksi bisa ditanggung oleh pemilik kebun karena pagarnya tidak beres atau juga oleh pemilik ternak. Kalau merusak tanaman, pemilik ternak juga mendapat sanksi,” jelasnya.

Tidak bosan ia mengajak para anggotanya untuk mengikuti jejaknya dalam menanam pohon. Penjelasannya mengenai ketatnya peraturan penebangan pohon di hutan yang diterbitkan pemerintah dan berbagai manfaat besar yang sudah ia peroleh dari menanam pohon di lahan pribadi, membuat banyak anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Namu Ana (Sayang Anak.red) nya mulai bergiat menanam pohon. Diantaranya ialah Kornelis (33) dan anak dari salah satu anggotanya yakni Defrin (18).

Kornelis bahkan tidak segan meminta polybag kepada Hina yang juga memberikannya dengan sukarela. Polybag itu ia gunakan sebagai wadah bibit pohon yang akan ia tanam. Kornelis telah menanam seribu pohon yang sebagian besarnya berjenis Gamalina.

Serupa, Defrin telah menanam hampir seribu pohon. Ia beralasan agar kelak ia tidak kesulitan untuk mendapatkan kayu sebagai salah satu bahan utama  dalam membuat rumah. Selain itu, pelajar SMA ini juga menanam banyak tanaman jenis buah seperti kemiri dan jambu. Buah dari pohon ini dapat ia jual untuk menambah pemasukan bagi orang tuanya.

“Kebanyakan di sini, baik anggota maupun saya sendiri, mendapatkan anakan pohon itu dengan dikoker atau pembibitan sendiri. Tanamnya juga tidak sembarang. Di dahului dengan membuat lubang dan pemberian pupuk,” jelas Hina.

Di lahannya yang kini dipenuhi berbagai jenis pohon seperti Gamalina, Mahoni, Injiwatu, Lobung, Hina mulai memetik hasilnya. Ia sudah membuat dua rumahnya dengan pepohonan yang ia rawat dengan penuh perhatian. Ia pun telah menanam kembali pohon sebagai ganti pohon yang  sudah ia tebang itu. Ia terus bertekad untuk menanami semua lahannya dengan pohon.

“Anak saya kan ada sembilan orang. Saya sudah tanam delapan ribu pohon. Jadi saya masih kurang tanam seribu pohon untuk anak bungsu saya,” ungkapnya sambil tertawa.

Ia pun menjabarkan keuntungan lain dari menanam pohon. Menurutnya dibandingkan memelihara hewan, lebih mudah merawat pohon.

“Kalau hewan dalam merawat membutuhkan biaya juga, kalau pohon kan hanya perlu dibersihkan. Perlu diingat, tanaman ini tidak hanya untuk membuat rumah, tapi juga membuat udara menjadi segar. Contohnya, kalau kita punya masalah dalam rumah tangga, melihat pohon ini menjadi lebih lega,” simpulnya tanpa ragu.

Ditulis oleh: Uliyasi Simanjuntak, staf Area Program Sumba Timur Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

06 Mar 2019

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Kampung Tanganang, Desa Tanambas merupakan desa tetangga dari Desa Prailangina, Nusa Tenggara Timur.…

27 Dec 2018

Ketika Usia Bukan Menjadi Penghalang

Ketika Usia Bukan Menjadi Penghalang

Roslinda (13), atau yang akrab disapa Roslin, tidak pernah bermimpi akan terpilih sebagai…

04 Dec 2018

Menciptakan Penghidupan dengan Sayuran

Menciptakan Penghidupan dengan Sayuran

Suasana di paranggang (pasar tradisional.red) di Desa Kadahang siang itu cukup ramai. Transaksi…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube